![]() Masih anget dari blogspot mereka di nekrophone.blogspot.com ..., ga jadi ama Lil'Fish Records ternyata..., mereka rilis sendiri. Aaaarrgghhh...., bungkus satu bang!!!! ======================================= Kami menyepakati jadwal rilis untuk "Illsurrekshun" adalah 1 Mei 2008 dengan memulai pendistribusian di Bandung pada tanggal 28 April. Sehubungan dengan terbatasnya area pendistribusian pada awal Mei tersebut, dengan ini kami mengumumkan, terutama bagi kawan-kawan di luar kota Bandung, mulai sekarang kalian dapat memesan (pre-order) CD tersebut lebih awal lewat mailorder. Kalian dapat mengirim email pemesanan ke email kami (remains@nekrophone.com) dan kami akan membalas email tersebut dengan tata cara pemesanan. Khusus untuk mailorder tersebut kami akan mengepak CD dengan beberapa bonus, a) poster rilis b) patch Homicide c) stiker Homicide dan d) Newsletter Jurnal Apokalips edisi terbaru.Berlaku bagi 500 pemesan pertama, sehubungan terbatasnya jumlah bonus tersebut.
![]() Sudah lama saya pengen mewawancara Homicide, tapi baru sekarang terwujudkan. Gara-gara ide seorang teman di multiply yang bertanya, kenapa saya mengarsipkan banyak wawancara tapi saya sendiri ga pernah mewawancarai mereka..., he! Ide bagus juga. Dan der..., inilah interview itu. Seperti interview dengan Ucok lainnya yang sering berisi dan kontroversial tanpa harus sensasional. Dilakukan di satu sore di hari minggu di teras kecil rumah Ucok..., selamat membaca. Gimana kabar keluarga? Anak kamu sekarang 3 kan? Udah pada sekolah ya? Si bungsu… Ababil udah bisa apa? Baik…, mereka baik-baik. Kalo sakit sih ada aja, namanya juga anak-anak. Suka rentan. Alyssa sekolah TK dah mau SD, Nayla mulai masuk TK, Ababil udah bisa denger dan respon musik dan ngejer-ngejer kucing dan lagi seneng naik kursi makan. Kalo mau tidur suka minta dengerin lagu. Lagu apa tuh yang dia seneng? Belakangan sih dia suka tidur pake System of A Down... System of A Down? Serius..? Serius, tanya istri saya aja kalo ga percaya, hahaha..., album Mezmerize tepatnya... Oke, kita mulai dengan kabar Homicide cok... Hehe, iya maksudnya, begini, Homicide udah bubar, tapi banyak yang masih bingung, itu kok ada album baru, gitu lah kira-kira... Emang udah bubar dan emang ada album baru. Tapi ga usah bingung juga, karena selain ga penting untuk dibuat bingung juga dari bulan kapan udah saya kabarkan, ini album dibuat sebelum kami bubar, dibikin sejak November 2006 sampai kami menyatakan bubar July 2007 kemarin. Tadinya sih gak niat dirilis malah, karena memang hanya setengah jadi. Hanya 8 lagu dari 12 yang direncanakan. Hanya saja kemarin Lil’Fish Records mau merilis album itu apa adanya, ya sudah. Jadi ini album, sekali lagi, dibuat sebelum kami bubar.. 2006 ampe 2007? Setahun? Ya setahun lah..., hehehe pusing kan? setahun cuman jadi segitu, hahahah, apalagi saya... Faktor apa tuh cok bikin selama itu? Atau emang lama bikinnya? Kalo dibilang lama emang ada yang namanya waktu proses yang ga sebentar, cuman jadi keterlaluan begini gara-gara si Aszi yang ditengah jalan kumat lagi. Kumat maksudnya? Awalnya kan album ini emang album barengan lagi ama dia rencananya, itu obrolan akhir 2006, kita bakal bikin album terakhir sebelum bener-bener Homicide saya bubarin. Tadinya emang pas akhir 2006 dulu udah mau dibubarin banget, hanya Aszi pengen bikin sekali lagi aja, Ok, saya gak keberatan sama sekali, meski sebelumnya waktu garap mini album ‘Barisan Nisan’ dia menghilang, mundur, atau apalah sebutannya yang pasti mengecewakan saya. Tapi kalau ini tawaran terakhir dia, ok, di gas aja. Awal prosesnya ya biasa aja, ga ada masalah. Nah, sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, ini mulai ngaco. Kumat maksud saya, dulu dia pernah begini dan kemarin begitu lagi. Dia mulai banyak alesan lagi kayak dulu. Intinya sih dia udah ga bisa lagi beginian, bikin lirik mentok dan sebagainya. Atau entah apa penyebabnya, pokoknya proses selama itu yang bikin saya burn-out, dan mikir ini udah harus disudahi kalau ngga, i waste my time... Kalo boleh berkesimpulan, gara2 album ini juga kah kamu ngebubarin Homicide? Ya, salah satu alesannya, Mungkin iya. proses pembuatan album ini emang banyak makan ati juga, dan menambah kontribusi pada keputusan saya untuk ngebubarin Homicide, karena chemistry nya udah ga jalan. Daripada dipaksain, mampus aja lah. Tapi banyak orang mikir Homicide itu kamu cok, jadi sebenernya toh tanpa yang lain kan kamu masih bisa jalan... Ah, kata siapa. Ngga lah, Homicide itu kerja kolektif sama seperti banyak grup lainnya. Kalau ruang gagasan nya mungkin bisa banyak dari saya, tapi salah juga kalau dibilang Homicide itu saya. Lagipula, saya udah cape jalan sendiri pake nama Homicide, tanpa Aszi dan Lephe sebenernya Homicide udah bukan Homicide lagi, paling ngga buat saya seperti itu... Formasi di album ini sama dengan waktu bikin ‘Barisan Nisan’? Kurang lebih masih lah, ngga pernah rubah kok, sejak Aszi cabut tahun 2004, formasi Homicide ya seperti di album ini..., Saya, Iwan dan Andre. Gaya membantu back-up saya dipanggung, dan kadang pula di panggung Andre ngga sendirian, kadang Akew, pernah Jojon juga. Tapi itu semua cuma di panggung, pada proses penulisan lagu sih mungkin hanya saya, kemudian saya teruskan ide nya ama Iwan dan Andre. Bisa cerita sedikit materi album “Illsurrekshun” disini? Ngga bisa. Hahahaha, saya aja udah lupa. Atau bosen mungkin. Hahaha. Apa yang musti diceritain, cuman gitu doang kok, 1 intro, 7 lagu, 1 lagu bonus. Titik. Hahaha, masa sih ga ada banget? Ada lah dikit mah..., kaya begini nih; “Siti Jenar Cypher Drive” masuk album ini apa ngga? Saya harap sih masuk, karena selalu gatel denger di panggung melulu..., pengen denger lagu benerannya ... Ada. Setelah banyak request dari luar dan dalam Homicide sendiri, lagu ini akhirnya saya masukin di album sebagai bonus track. Tadinya cuman single lepas yang saya masukin ke 12” split bareng MC Homeless. Dan “Tantang Tirani”, ini kolaborasi dengan Tika? Karena saya pernah denger juga ada single nya dengan judul sama? Ngga. Bukan kolab, awalnya ya, kita sempet bikin sketsa kolaborasi masing-masing, hanya karena banyak kesulitan dalam hal teknis dan waktu juga kami ga sempet ketemuan untuk bahas itu lebih lanjut, Akhirnya ga jadi. Mungkin Tika bikin hasil sketsa versi dia itu untuk jadi lagu dia sendiri, saya sendiri belum denger. Dan konon ada lagu yang bikin bareng Pure Saturday? Oh bukan. Ngga ada tuh. Yang ada; satu lagu bikin bareng Udhi, salah satu personil PS, drummer mereka yang juga sahabat saya. Judulnya “Klandestin” Kami bikin basic beat nya bareng, dia create ide dasar, basic sample, strings dan laen sebagainya, kemudian komposisi dan finishingnya saya yang beresin. Tuh kan banyak!, hahaha apalagi dong…. Masa musti dikorek begini terus… Heheh, udah kayaknya emang itu aja, abis ga terlalu penting juga menurut saya Kapan nih dirilis kalo gitu? Kok ga rilis-rilis... Harusnya januari ini, semuanya udah beres kecuali booklet yang amit-amit banyak masalah dipengeditan dan pengumpulan bahan. Tapi moga-moga Februari pertengahan atau akhir dah rilis..., tergantung proses massifikasinya aja... Booklet apa nih maksudnya? Di album ini ada bonus booklet kecil yang isinya interview dan profil beberapa organisasi akar rumput yang kami pikir layak diketahui banyak kawan. Booklet ini yang ga selesai-selesai, hahaha.. Ada maksud tertentu dengan dibonusin booklet ini? Pasti lah. Saya cuman pengen album ini lebih dari sekedar hanya album belaka. Karena selain basi, alias materi udah kelamaan dan Homicide pun udah bubar maka harus ada alasan lebih dari sekedar merilis album ini sebagai bentuk dokumentasi belaka. Akhirnya diputuskan album ini sebagai bagian dari kampanye anti neoliberalisme juga, ide dasarnya adalah menyebarluaskan informasi pergerakan akar rumput lokal yang telah eksis bertahun, sengaja dipilih subjeknya beragam supaya bisa dilihat keragaman perlawanan di luar sana, supaya bisa menciptakan gambaran bahwa perlawanan yang ada ngga harus satu warna, satu wilayah, satu sektor dan lainnya. Dari organisasi buruh sampe nelayan, petani sampe jaringan radio komunitas yang saya coba wakilin satu organisasi per sektor. Apa yang menurut kamu isu Neo-liberalisme ini begitu penting sehingga harus dibuat kampanye lintas komunitas untuk isu itu... Ya penting lah. Yang paling pertama, neoliberalisme itu adalah imperialisme alias penjajahan dalam bentuk yang paling modern hari ini. Hampir mirip dengan penjajahan jaman dulu, hanya kalo dulu aktornya negara menjajah negara lain, sekarang para imprealisnya adalah para korporasi..., Yang kedua, ga banyak kawan-kawan tahu bahwa isu-isu kecil di sekitar mereka itu adalah isu neo-liberalisme dalam wujud yang paling sederhana, sulit bagi banyak kawan untuk melihat hubungan antara kenaikan bensin dengan neo-liberalisme, apalagi dengan isu Freeport, Newmont, Exxon Mobil Oil. Hari ini dimana mereka hanya ngeliat dunia sebagai ‘konsumen’ dan ‘investor’ akan sulit mempertanyakan pembangunan ratusan mall di kota-kota besar dan penguasaan kontrol ruang publik berlebih yang banyak dihibahkan pada korporasi dan orang-orang beduit. Mereka selalu berpikir bahwa hancurnya dunia gara-gara pemerintah korupsi, padahal lebih dari itu, mereka ga ngeliat negara hanyalah boneka saja hari ini, ga lebih, master of puppet–nya ya para korporat. Ah ga usahlah jauh-jauh, soal kuliah mahal aja banyak mahasiswa nganggap itu udah konsekuensi zaman dan ga perlu diprotes. Mereka kesulitan untuk ngeliat ini bagian dari mata rantai persoalan global yang menghinggapi dunia hari ini. Yang ketiga; ini penting karena banyak yang menjelaskan masalah neo-lib berumit-rumit namun ga banyak yang menjelaskan bagaimana melawannya. Mereka ga melihat bahwa mengorganisir komunitas terkecil kalian dan melokalisasi demokrasi adalah awal dari perubahan sosial yang lebih besar dan perlawanan melawan dominasi global. Soal Komodifikasi dan Kooptasi, ini pasti lu bosen dengernya..., kok bisa kalian masuk Rolling Stone? Saya tanya balik dulu; apa hubungannya masuk Rolling Stone dengan komodifikasi dan kooptasi? Apa lantas kemudian kami di wawancara Rolling Stone dan masuk di situ naruh lirik lagu kami adalah bentuk kooptasi? Itu maksudnya? Kalo emang begitu, so be it. Saya pengen lirik saya dimana-mana. Ngga pernah ada salahnya nyimpen sedikit pesen disana-sini. Kalau bisa nyimpen pesen “Militer Brengsek” di graffiti tembok jalanan sebagai pesen, kenapa ngga di halaman majalah glossy? Sama aja, Cuma beda media. Toh saya ngga mengkompromikan apapun untuk ada disitu, yang saya minta semua mereka kabulkan, so why not? Mereka tidak edit sedikit pun statement saya, bahkan yang saya perkirakan mereka bakal tolak sekalipun. Kayak apa? Kayak yang tadi. “Republik Ini Milik Saudagar, Preman dan Militer” dan juga quotes lirik dari “Purgatori Martir” yang kurang lebih isinya sama, cerita soal kasus Alas Tlogo. Hahahah, Ya saya liat itu. Kamu pake kaos itu, jelas banget. Oke yang ini mungkin bisa jadi pertanyaan bodoh; tapi saya tetep penasaran; Bagaimana pendapat kamu tentang ZATPP, dan apa pendapat kamu tentang Agum Gumelar... Apa gimana maksudnya ga ngerti saya..., maksudnya apa pendapat saya tentang Zeke and The Popo? Mereka band bagus, salah satu band lokal terbaik hari ini. Lalu hubungannya ama Agum Gumelar? Oooh.... tau saya. Ini pertanyaan ngejebak kan? Oh sama sekali ngga ‘Cok! Hanya penasaran apa jadinya pendapat personal kamu tentang ayah dari temen atau seseorang yang kamu kenal dan terlibat ama Orde Baru… Ok...ok. Ga papa saya jawab. Agum Gumelar adalah salah seorang diluar sana yang hari ini seharusnya sedang di adili atas keterlibatannya pada aksi tiranis rejim orde baru. Itu jawaban saya. Dan saya yakin Zeke pun ga akan mau saya bohong soal pendapat saya dan saya yakin dia mau saya bilang jujur apa adanya. So that’s it. Kalo kamu mau jawaban terjujur saya ya itu. Ngga mungkin bagi seorang Agum yang terlibat jelas di banyak kasus represi militer di zaman Orba dibilang ga bersalah, kalau saya bilang sebaliknya akan sangat melukai hati para korban dan keluarga korban kekerasan Orba. Dia terlibat jelas di banyak kasus, 27 Juli misalnya. Dan ga mungkin seseorang yang pernah menjabat kepala institusi intelejen bersih tangannya dari kejahatan intelejen yang list nya lebih panjang dari daftar bondon yang di garuk Satpol PP dalam seminggu. Kamu sendiri kan tau kalo dalam militer seperti apa, komando ya komando. Itu kalo dari atas seperti itu sampe bawah harus begitu. Ga ada yang bisa lepas tangan “oh gwa ga bersalah, itu komando atasan”. Bullshit. Apalagi dia sekarang sedang mencalonkan diri jadi calon Gubernur Jawa Barat. Ah dijamin pasti banyak orang udah lupa Agum itu siapa…, Tapi apapun pendapat saya soal Agum, ga akan pernah merubah pendapat saya tentang Zeke dan band nya sebagai salah satu band lokal terbaik hari ini yang pernah dimiliki Indonesia. Karena emang ga ada hubungan apapun antara ZATTP ama Agum. Jadi mungkin yang bodoh disini adalah pertanyaan kamu... hahaha. Hahaha.., namanya juga penasaran boleh lah sekali-kali bertanya bodoh. Nah soal itu juga cok, soal betapa cepat lupanya masyarakat kita ama memori seperti itu, soal ini ada hubungannya ama pertanyaan saya, gimana pendapat kamu soal pendapat banyak orang yang mempopulerkan wacana “Suharto Ga Salah” atau “Suharto Harus Dimaafkan Demi Bangsa”, terutama ini keluar dari mulut para artis… Yah itu…, Sialnya emang masyarakat kita mengidap amnesia akut. Suharto yang udah jelas bangsat aja pas sekarat kemaren sederet artis bilang “mari kita maafkan, kita bangsa pemaaf, bla bla bla.” Ngentot. Bisa aja Eko Patrio atau vokalis Ungu atau siapalah pada bilang gitu…, karena mereka bukan seseorang yang punya ayah digorok dan dikubur massal di satu kuburan antah berantah, atau yang anaknya ilang entah kemana ga muncul lagi setelah suatu malam diculik Kopassus, atau yang ibunya mati ditembak ‘peluru nyasar’ di satu desa petani yang dituduh nyerobot tanah. Atau para artis itu bukan seseorang yang adiknya jadi korban kasus Haur Koneng, Tanjung Priok atau Semanggi, Coba kalo itu Ayah, Ibu atau Anak atau Adik mereka, bisa ga mereka maafin? Emang artis Indonesia kebanyakan jilat lubang pantat buat bikin reputasi. Hahaha, saya masih punya tuh videoklip lagu “Bapak Pembangunan” yang nyanyi dari ABThree ampe Titik Puspa. kebayang ga kalo itu diputer circa tahun 1998 ampe sekarang non-stop ampe orang muak, dan harusnya iya… supaya orang ga lupa siapa yang munafik dan siapa yang oportunis dan jilat pantat. Oke lanjut, udah lama saya ga dengar kabar lagi, gimana soal kasus kamu ama Thufail? Ga usah lah disebut-sebut lagi…, emang kenapa sih? Saya udah lama bilang juga ama orang banyak di banyak interview, kasus ini udah ditutup. Saya udah cukup menghormati dia yang berusaha jauh-jauh datang ke rumah untuk bahas masalah ini dengan bantuan temen…, ini udah sangat cukup buat saya dan saya menghormatinya karena itu. Satu misinformasi kecil saja bisa bikin ini jadi sangat berabe, akan membuat hal ini jadi rumit lagi, kayak kemarin saya denger ada misinformasi dari satu temen juga. Tapi saya gak akan bahas juga, nanti malah tambah panjang lagi. Jadi sekali lagi cukup. Kami udah sepakat untuk gak memperpanjang… apapun yang ia ucapkan tentang saya…, untuk menghormati temennya juga yang jadi sahabat saya sekarang, saya lebih baik diam untuk kasus ini. Oke, oke… saya paham. Lanjut aja, gimana rasanya pas album kamu masuk di daftar 150 album terbaik Indonesia sepanjang masa? Biasa aja. It’s just a poll. Ngga ada arti apa-apa. Saya lebih ngerasa di apresiasi ama ucapan mereka yang bilang album itu merubah hidup mereka, membuat mereka punya visi baru tentang politik, membuat mereka mempertanyakan ‘kebenaran’, membuat mereka terlibat di perubahan dan lain sebagainya. Itu yang lebih membuat saya ngga pengen berhenti main musik. Rencana ke depan ama grup baru kamu, Trigger Mortis? Kami lagi nulis lagu. Masih nulis ampe sekarang. Baru jadi 3 lagu…, rencana mau bikin demo, jadi agak molor karena kemarin ke potong beresin mastering ‘Illsurrekshun’. Rencana Maret ini masuk studio buat rekaman, kayaknya sih EP dulu aja. Kalo saya denger lagu Trigger Mortis yang di myspace kamu, itu lebih mirip Homicide hanya lebih Neurosis saja…, apa emang niat seperti itu? Ah ngga juga, kalo mirip Neurosis, karena backbone sample lagu itu saya ambil dari “Aeon”. Im a big fan of Neurosis. Kalo ada tersirat pengaruh, saya pikir udah wajar. Wong ampir tiap hari denger Neurosis. Hahahaha. Dua gitaris Trigger Mortis (Madun dan Dede –ed) juga demen Neurosis, pasti lah ada pengaruh juga. Cuman si Mada aja yang keseringan denger Nusrat Fateh Ali Khan, jadi kombinasinya pait..., hehehe.. Pendapat kamu soal pendapat orang yang bilang “Homicide adalah band hiphop yang lebih punk dari band punk lokal pada umumnya, sekaligus band punk yang lebih hiphop dibanding grup hiphop lokal pada umumnya..” Well, I take it as a compliment then…, meskipun saya ga pernah mengklaim sebagai keduanya…, hiphop atau punk hanya label. Biasa nya pengklaiman label hanya memenjarakan kamu sendiri. Grup lokal apa aja yang kamu pikir seharusnya layak didengarkan orang dibanding apalah itu yang ada di TV... Wah kalo parameternya yang ada di TV mungkin sebagian dari mereka juga (band bagus menurut Ucok-ed) ada di TV..., kayaknya kau harus ganti parameter-nya hahaha.., Oke, banyak sekali kalo mau disebut, tahun kemarin banyak yang bagus-bagus menurut saya muka lama atau baru sekalipun. Pure Saturday yang pasti, album Koil yang baru dahsyat. Seringai baru, D’Army harus saya sebut bukan karena mereka temen saya tapi karena mereka memang salah satu grup hiphop terbaik lokal hari ini. Album kedua Siksa Kubur kemaren gila..., Burgerkill, Efek Rumah Kaca lebih dari mengejutkan buat saya, mereka luar biasa..., kalo singel Tika yang di album kompilasi Oxfam kemaren itu preview album barunya maka album itu pasti layak tunggu, Zeke and The Popo juga makin matang. Dan yang wajib pula didengar adalah beberapa yang luput dari media seperti Speedkill, album baru Komunal mungkin. Kalo band bawah tanah yang belum merilis sesuatu namun patut di’waspadai’ juga? Biasanya ramalan kamu suka tepat, hahahah... Ramalan? Sejak kapan saya ngeramal? Ga kepikiran kalo sekarang sih..., suka susah kalo ditanya ngedadak begini..., mmm... Ghaust, He of The South... Kemunculan ulang Brutal Death dari Ujung Berung udah harus diwaspadai. Lalu..., mmm ... wah apa lagi ya? Oke terakhir deh, Bisa kasih beberapa buku terakhir yang kamu baca? Uhhh…., jarang baca belakangan. “Tuhan dan Hal-hal Yang Tak Selesai” nya Gunawan Muhammad. “Narasi Agung”- Zainuddin Maliki, “Tragedi Karbala”- Sayyid Ibnu Thawus dan lagi baca ulang “Zaman Bergerak”-nya Takashi Shiraishi. Udah, itu aja yang saya inget. Makasih wawancaranya..., dan buat waktunya juga, udah mau diganggu sore-sore begini..., ada pesan-pesan terakhir? Ga ada..., makasih aja udah repot-repot bikin multiply kayak begitu...
![]() "album hiphop krusial yang membuat wajah hiphop di tanah air tak lagi sama selamanya" begitu kurang lebih komentar Rolling Stone yang memasang album The Nekrophone Dayz sebagai salah satu dari 150 album terbaik indonesia sepanjang masa di edisi Desember ini, bersanding dengan 149 album lainnya dari tahun 50-an hingga 2007 kemarin. selamat teman-teman, kalian memang berhak ada disana.
Maaf banyak2 maaf. Interview ini sebelumnya udah pernah saya post, saya kopi paste dari zine yang versi pdf. Waktu itu ga saya crosscheck lagi, dan ternyata saya baru menyadari ada yang kelewat (gak tanggung-tanggung; setengah interview!), ga ke kopi!, aduh. Baru nyadar pas dapet zine versi cetaknya kemarin. Oleh karena itu saya delete yang lama dan saya ganti yang baru. Interview ini sendiri adalah interview Ucok dengan zine dari Amrik, diseased zine beberapa waktu lalu. Zine ini gratisan, untuk di Indonesia bisa didapetin di praank distribution (solo), atau kontak di http://www.myspace.com/praankdistribution, kalo mau edisi onlinenya (file pdf) bisa download di http://diseasedrecords.com/thehealingcancer3v2_hi_res_web.pdf, isinya sangat bagus, selain Homicide ada interview lain dengan the mole, skiller, genghis tron, curse ov dialect, wormhole, mc homeless dan banyak lagi. Enjoi... ===================================================== Around a month after this interview was completed, and about one week before today, Homicide broke-up after being together for over a decade. Homicide was a hip-hop/rap group from Indonesia who took a dark, noisey, approach toward hip-hop; not just on the production side but on the vocals as well. This interview is with one of their founding members and MC, Ucok. Since the disbanding of Homicide, Ucok and a few other members of Homicide have formed a new group, Trigger Mortis. Who is in Homicide and how did all of you come together to start making music? We started in 1994 as 3 mcs and 1 DJ format. That’s me, Sarkasz and Punish and DJ Busuk. We met in a battle / competition or such..., Sarkasz and Punish already had their own group when i was still doin solo. When their groups broke up, we met again and started talking bout making a new rap group under the name Verbal Homicide, Punish made it short to “Homicide” three months later. Punish left the group in 1998, Busuk left the next year, and DJ-E replaced him in 2000. In early years, it was me and Busuk makin the music, but since he left i did all the production things alone. Sarkasz decided not to involve in Homicide since our Godzkilla Necronometry EP in 2002. So the line up was me and DJ-E with Andre on guitar, this format last for 3 or 4 years until 2006 when Sarkasz wanted to be back on the mic. Does the Israeli occupation affect the Muslim community worldwide? i think the israeli occupation effect not only Muslim community in this world, its not only merely muslim issue, its human issue. But anyway, it does affect Indonesia since it’s the world’s 2nd biggest moslem country in the world. I’m not real familiar with Indonesia and its history, have Hindu’s and Muslims pretty much got along peacefully in the region? I dont know, its look quite on the surface when its big storm inside. You know all this religion things can spark flames anytime. For our readers who are not familiar with Indonesia, what is the music scene like there? How have you seen it grow since Homicide has been around? Indonesia is not different with other countries in this side of popular culture. We have mainstream bullshit music scene (and its worse and uglier than they are in europe or america) and also growing independent d.i.y music scene. The indie/DIYscene doesn’t really exist until its emergence in early 90’s. You can have the scene reports in several punk websites, A-Infos for example, even it’s not the latest version but at least you can get a picture for what it is like the d.i.y scene here. You can also read the Domestik Doktrin interview with the infamous Equalizing Distort, Domestik Doktrin is one of the best trashcore bands in Indonesia and they gave a long ass stories about local scene and socio-political situation in Indonesia. In what ways are the “mainstream” scene in Indonesia worse then those of America and Europe? Well, maybe i sounds like simplifying things but if i can give an example: American mainstream has produced great and inspiring records like first three PE albums, BDP’s, Ice Cube’s, The Coup’s and many great hiphop records like Illmatic, for instance. Not to mention, the classic records like Slayer’s or Black Sabbath’s. I dont think i would listen to HC/Punk if i didnt listen to first 2 Sick of Ot All and Biohazard albums because noone had Minor Threat or DIY tapes/vinyl in Indonesia back then. I start listening to many great DIY records after i explored the music that means i have to thank those mainstream bands for taking me through the gates so i could find more and more great bands like Catharsis, From Ashes Rise, Refused and Tragedy. And with that comparison, you can look at the Indonesian mainstream which can produce nothing but garbages... no inspiring albums.., nothing, except those Benyamin’s that my dad always spin em on his turntable when i was a kid and made me want to make something similar... Do you think it is better to try and fight the “mainstream” system from within or do you believe the CrineThinc mode of thinking [that if all these musicians got together and formed their own system that there wouldn’t be a need for the “mainstream”] the way to go? I prefer the later. Not because im pro Crimethinc or something, but thats the way it should be done. But i dont want to say its the best path out there, because you cant make a binary out of complicated things like music industry. You have to go there doin something first until you know whats really goin on and make a decision out of something you going thru. I just want to say its not that easy being both (mainstream and underground) in Indonesia when you have to do something else in the first place... DZ: Has long has Food Not Bombs been over there, is it growing strong? I don’t really remember, The Bandung Chapter was set up probably between 1999-2000, started as food resources organizing by local community activists and free food serving at hc/punk gigs, started being labeled “FNB” by 2002..., there was a time when it was put on hiatus for a year or so, demoralized by lack of resources and energy, then the new activists came in and with the remaining older ones started it again in 2006 until now. Its never getting stronger and neither weaker..., its just a regular activity with people in and out occasionally... DZ: What else are you involved in besides Homicide? Well, not much..., Musically i have this other project i started working named TRIGGER MORTIS, which more experimental/ dalek-type of hiphop. The other one is PHENAM PLEGHM, an avantguard noise project with my hommie DJ Madrotter, its more like This Heat meets Jam Master Jay type of things, hahaha. I had a Madball/Negative Approach HC group but disbanded a couple years ago..., the Other things besides music is all this activism things that keep me busy and also my shitty job since i still have to feed my family all the way i could. DZ: What job do you work? Im a graphic designer. I run my own graphic house. DZ: I’ve read that you’ve been detained after shows by the police, and you’ve told me that your headquarters has been raided several times in the past few years, is Homicide perceived as a threat by these people? What has been the outcome of these events? Homicide? no way..., maybe in the spectacle level, but not in the real world. We’re probably a threat in some way that our sounds and visuals can influence a new generation of anarchists and freedom fighter, but we’re not a threat at all when it comes to changing the real world..., they know we’re just a small collective of angry youth, they only considered us a threat when they realized that we’re part of something bigger comin up. DZ: Isn’t there another Homicide release in the works? What can you tell us about it? Right now we’re recording our new materials for the split EP with French anarcho hiphop, the COLLECTIF MARY READ, which will be released on vinyl under French’s Fight For Your Mind Records. Our second EP, The “Barisan Nisan” will be re-issued in Malaysia under Papakerma Records, we add 2 unreleased tracks for this Malaysian Version. A collabo EP also in progress with the local best noise outfit, KALIMAYAT (means a river of dead bodies), its more like a remix/reinterpretation project where we re-interprete their songs and they remix ours. It will be a very limited edition records, we will print it only for 100 tapes with 100 different artworks. For the last minute updates, MC Homeless just offered us a split album, it’s impossible to say no to work with great MC like him. Im also producing for a couple of local hiphop groups, organize a benefit comp, and a short documentary movie about sub-contract workers condition in Indonesia. After all projects done we’ll start writing for the next album that will be the last HOMICIDE album ever. Well, i can say we’re kinda busy right now, hahaha. DZ: The last Homicide album ever? So is the group disbanding? Hell yeah, last album ever. It’s so difficult being a group for 13 more years without being a myth..., even a local myth, we hate being one. Besides i want to explore more things and make another form of music and it’s not possible if im still doin this Homicide things. We kinda bored of this and we dont want tobe killed by boredom. That means yes we’ll disband after the album out and the south east asian tour. DZ: When is this tour? Are you going to be touring with anybody? Most probably in November, our peeps in Papakerma Records will organize the local tour for us. No Bandung/Indonesia bands will involve, but Malaysian bands from hc/punk scene for sure..., this would be interesting tour since we really want to share gigs with friends from the continent, especially the great ones like Ila Mitra from Singapore and Mass Separation or the legendary Carburetor Dung from Malaysia. DZ: What is a Homicide live performance like? like regular basement punk/hc gigs, sometimes like something between Mobb Deep and Neurosis show when it comes to big stages..., i dont know, im not really feelin them big stages, i prefer the small gigs with more interactions between the performer and those who are watching. The same methods punk rock bands used to destroy the barricades between artists and audiences... DZ: Any closing words for our readers? Well, im looking for a label that is interested to put out our records in the US. Just hit me at my mail address to get in touch. To know more about local activism you can visit this address: www.jakarta.indymedia.org or www.apokalips.org mostly they’re in Bahasa but there are also news or reports that’s in English version as well. Stay active, stay free...
Ini baru gua dapet di myspace-nya Homicide, mungkin ini statement resmi mereka soal album terakhir dan lain sebagainya...., sebenernya udah agak lama..., kok gua baru baca sekarang ya? POST-MORTEM ANNOUNCEMENT, Seputar Album Terakhir Dsb... Terima kasih pada semua kawan yang mem-post komentar, pernyataan dan pertanyaan pasca pembubaran Homicide di blog ini, di email, dimanapun. Mohon maaf bila kami tidak bisa membalasnya satu persatu. Sehubungan itu pula kami merasa perlu untuk mempublikasikan beberapa hal yang perlu kami sebarluaskan; Ok, Pertama, Homicide, sekali lagi, telah bubar. Kami, dengan berat hati tentunya, tidak akan melakukan show/panggung, tur, interview atau aktivitas apapun (musikal atau bukan) dengan nama Homicide. Ini menjawab pertanyaan kawan-kawan yang sampai beberapa hari kemarin masih mengajak kami untuk terlibat dibeberapa panggung. Ke-2, yang erat kaitannya dengan pernyataan-pernyataan kami sebelumnya seputar album baru pada beberapa wawancara bahkan pada newsletter potokopian yang kami rilis beberapa lama sebelum Homicide kami nyatakan bubar; Album terakhir kami yang terpotong tengah jalan sebelum rampung tersebut, tetap akan kami rilis. Hanya saja tidak seperti yang direncanakan sepenuhnya. Berisi 6 track dari 11 yang direncanakan, album ini akan dirilis dibawah Lil Fish Records, bertitel "ILLSHUREKSHUN". Album ini tak lebih dari sekedar hanya rilis, dan semua profit porsi kami akan digunakan dalam "Kampanye Komunitas Melawan Neoliberalisme". Ke-3, proyek split album dengan Mary Read Collective akan tetap dirilis oleh Fight For Your Mind Records, sedangkan proyek split album dengan MC Homeless kami cancel, dan proyek split tersebut kami alihkan pada Trigger Mortis, yang sekarang masih dalam proses penggarapan. Ke-4, pada siapapun yang membuat laman Friendster Homicide, kami sangat menghargai usaha kawan sebagai bentuk dukungan terhadap kami, namun kami pula sangat berharap kawan mencantumkan peringatan di situs tersebut bahwa situs itu bukan situs resmi kami. Terus terang, kami merasa lelah menjawab satu persatu setiap orang yang mengirim email minta di-add segala macam, atau komplen mengapa add dia tak pernah di-approve dan sejenisnya. Itu saja, mungkin akan menjawab beberapa pertanyaan kawan-kawan belakangan, meski tidak semua. Terima kasih sekali lagi. Salam Pembebasan. Vives Sans Temps Mort! Ramadhan 2007
Skrip wawancara ini pernah di upload di nekrophone.com sebagai versi asli wawancara dengan Jakarta Post. Homicide memasangnya karena mereka pikir Jakarta Post hanya merangkum pendek saja wawancara ini di sebuah artikel mereka, versi keseluruhannya tidak dimuat..., jadi silahken saja baca versi aslinya....., thanks =========================================================== 1.What do you like about Myspace? It's the most effective web medium out there to send out informations. Nothing else can compete with the features and vast network the myspace.com has. 2. What donít you like? It's being co-opted by greedy corporation who responsible for many fuck-ups in this world. From manipulation of information, promoting greedy consumption, to supporting the occupation of Palestine. One of the most evil corporations in this world. Well, someone can visit our myspace page and read our announcement for further details... 3. Has it changed how you organize gigs or hang out in the music scene? If so, how? No, i never use myspace for gigs organizing, i prefer doin it old-fashion way..., beside sending information to the page monthly, i never use internet that often, i dont even have my own modem and phone line, i visit warnet (net rent) once a week and theres no way it'll change my world by connecting myself to the page as often as possible. 4. Have you met any interesting bands on Myspace: can you give some examples? Yes, Kalimayat, for local example, is unbelievable. They play harsh, brutal noise music like Merzbow and combine it with 'local touch' like noone ever does..., It's really amazing to know em, especially when u thought local scene is boring and dying..., I also found interesting hiphop groups from Palestine called DAM, Singapore's Ila Mitra which i consider as one of the most amazing Asian HC band. Radio Deception is dope, Mosara is ill, and La Coka Nostra is an underground supergroup that i wont recognize if i never have visit their myspace page... 5. Have you done any touring (to other places in your country or other countries) by using myspace? No.Not yet, i dont know, maybe in the future..., 6. How else has the website helped your band? I use bulletin feature to help us spreading informations on recent activites and events which are not music-related to people in our network. It's interesting to have comments from friends who visit the page and add us because of our music but also start asking about La Via Campesina and farmers movement in Indonesia, for example. We involved in the local Anti-Neoliberalism Community Campaign, it also help us informing ppl about our recent agendas, discussion forum, or sometimes direct actions. 7. Does it worry you that the site is owned by Foxís Rupert Murdoch? Why one shouldnt? When a lot of brothers out there being mutilated in Palestina, why shouldnt i worry about Fox? But of course, We should have done something more than just worrying things. When this industry keep endorsing global injustice i dont worry about nothing but the willingness of my people to fight back and defend their lifes. 8. Is there anything you would change about the site? Yes, i know it sounds stupid : take the site off of Murdoch's business. 9. Have you ever talked to famous bands or people that you really respect on the site? If so please elaborate... Im a big Dalek and Public Enemy fan, i send them personal request to have them laying verses on my next album. I also wrote letters to Refused and Godspeed!You Black Emperor just to say how great it was when i found their musics and how they changed my life. But since Refused is broken up and Godspeed never use internet (their myspace ia a fan-run) they never hit me back, but it's ok. I just want them to know something, and thats more than enough. 10. Have you ever got recording deals or record label signings, distribution from posting your music on the site? I dont think 'deals' is an appropiate word, I prefer call it 'work' with other independent labels outside Indonesia. I never have a contract or paperwork with them that's why. We're recording new materials for a split album with French anarcho hiphop "Mary Read Collective" which will be released on vinyl in French by a HC/punk label, Fight For Your Mind Records. The artwork of the split is done by the infamous Big Tiny of Unauthorized Ink who responsible for many Cypress Hill records' artwork. He's hooked up by FFYM records thru myspace as well. Im also looking forward for past EPs being released/reissued by US, Taiwan and Malaysia label. Most of em are connected thru myspace, but they're all independent ones. It's really amazing to know good, honest, active people from outside of Indonesia, who also doing great things in this activism promoting life and counter culture in their areas. 11. Anything else you want to add? myspace is useful, but it wont change our life. Use it as a weapon. Thanks for the interview and also for the past review of our album... Live hard, Stay Free. Thanks Chris...
Wawancara ini dikirim seorang teman ke email saya, konon Encore nya sendiri edisi ini entah jadi terbit atau tidak, dan ini juga mungkin salah satu wawancara Homicide yang termasuk 'terkini' alias dibuat tahun 2007. Terimakasih untuk Dinda (acoinoperatedgirl.multiply.com) yang melakukan wawancara ini dan mengizinkan saya mengarsipkan wawancara ini di sini. Ok, Enjoy. ========================================================= Ini tulisan buat encore, sayang belum sempat diterbitin. Sebuah wawancara ringan menyenangkan dengan Ucok yang seperti biasa, selalu penuh informasi. "Sudah Waktunya Homicide Dibunuh" Wawancara Homicide dengan Encore Magazine Homicide. Sebuah band tua yang akrab dengan kontroversi. Berkali-kali mengalami perubahan formasi dengan cuma satu personel tetap. Tak heran nama Ucok atau Heri Sutresna bersinonim dengan Homicide. Hasil wawancara pertama saya dengan Ucok hilang gara-gara rekorder saya rusak, untung bapak 3 anak ini mau meluangkan waktunya untuk saya tanya-tanya lagi. Wawancara kedua ini berlangsung di Tobucil dengan Ucok yang datang 30 menit lebih awal, hal yang sungguh di luar kebiasaannya. Banyak hal baru terungkap di sini, rencana pembubaran Homicide, band baru yang sedang dibangunnya dan kebusukan Nestle. NCR : Homicide apa kabarnya? Ucok : Yah, gitu aja. Lagi sibuk rekaman buat album baru yang belum jelas kapan keluarnya. Soalnya kemaren baru kelar bikin album split sama band hip hop dari Prancis. Albumnya sendiri kayaknya bulan depan udah mau dirilis tapi cuma dirilis di sana, soalnya bentuknya piringan hitam. Nggak mungkin kan ngejual piringan hitam di sini? Mau dipasang di kompor? NCR : Koq bisa kerja sama dengan band itu? Ucok : Kan album saya juga dirilis di Malaysia, kemudian ada anak punk Prancis yang datang ke Malaysia dan beli album itu. Lantas kita kontak lewat MySpace, ya dia nawarin. NCR : Kalau album yang baru, kembali ke formasi lama? Ucok : Iya, betul. Kalau yang split juga udah formasi lama, Aszi udah balik lagi. NCR : Tetap bertahan di label lama? Ucok : Sebenernya sih dari dulu kita kalau mau bikin album mah bikin aja dulu. Nanti pas pasca produksi, mau diapain kek, mau ditawarin kemana kek, itu kita pikirin ntar. Yang penting bikin aja dulu. Dengan Subciety juga gitu, materi udah ada, mereka beli album yang udah jadi. NCR : Oh, ya, kabar album terakhir gimana? Ucok : Kemaren itu dirilis 3000 kopi. Tapi saya belum dapat laporan juga gimana penjualannya, terakhir denger sih udah susah dicari. Mungkin juga udah habis. Ga tau juga. NCR : Kamu kan sering menulis, nggak berpikir untuk membuat buku? Ucok : Beda lah energi untuk nulis 1-2 artikel dengan nulis buku. Kalau nulis artikel kan bisa iseng-iseng malam-malam (kalau) nggak ada kerjaan. Kalau nulis buku harus fokus, harus ada riset awal, blablabla. Gue nggak ada energi aja untuk ngelakuinnya. Beda kalau bukunya buku lepas, semacam kumpulan artikel gitu. Tapi buat apa juga artikel gue diterbitin? Orang-orang juga udah pada baca lah. Lagian akhir-akhir ini gue nggak sempat nulis. Nambah anak ternyata kerasa banget. Dulu gue pikir anak 2 sama anak 3 sama aja. Apalagi sekarang, semuanya lagi pada sakit dalam waktu yang bersamaan, cacar pula. Pusing banget! NCR : Apa kabar kamu dan dunia politik? Dulu kan sempat masuk partai. Ucok : Itu dulu, gue masuk PRD (Parta Rakyat Demokratik) tahun 1997 akhir. Lantas setelah Soeharto jatuh, situasi di partai mulai nggak mengenakkan. Akhirnya tahun 2000 aku keluar partai. Mulai dari situ aku nggak terlibat Politik dengan P besar, terlibat 'politik' aja. NCR : Nggak tertarik lagi berarti dengan Politik? Ucok : Kalau masalah tertarik sih sebenarnya esensinya sama mau P atau p, cuma permasalahannya keterlibatannya di wilayah yang mana. NCR : Kamu berasal dari scene underground yang kental nuansa metal, kenapa justru kamu bergelutnya di musik hip-hop? Ucok : Awalnya sih di tahun 1990-an awal, nggak ada yang namanya scene hip-hop. Saya hampir bisa dibilang sendirian, apalagi dengan musik hip-hop yang tidak umum. Waktu itu kan lagi zamannya Iwa K. Jadi sama sekali nggak ada komunitas. Akhirnya aku bergabung sama orang-orang yang suka musik secara general, sukanya juga musik-musik yang “nggak lazim”. Kenapa bisa terlibat di scene hardcore juga karena kita butuh teman untuk maen dan segala macem. Hip-hop itu baru ada komunitasnya sekitar 1999-2000, itu juga baru kecil-kecil di beberapa kota. Besarnya mah baru sekarang-sekarang, tiap kota udah ada komunitasnya sendiri, graffiti udah pake gank, dj juga udah banyak . Udah jadi kayak subkultur sendiri, kayak punk aja. Kalau ngomongin keterlibatan, ketika komunitas hip-hop sudah ada, saya otomatis terlibat. Karena mereka ngeliatnya kita sebagai pelopor. Padahal pelopor apaan? Hip-hop mah dari luar sana. NCR : kalau ngeliat scene hip-hop sekarang, penilaian kamu gimana? Ucok : Sama aja sama yang dulu, nggak ada beda. Ada yang jelek, ada yang bagus. Sampai beberapa puluh tahun mendatang kalau infrastruktur masih kayak gini, orang-orangnya juga kayak gini, yah keadaanya akan tetap sama. Mereka belum bisa mandiri. Nggak punya industri sendiri, nggak punya infrastruktur sendiri. Gue aja di rilis sama label khusus band keras. Nggak ada label khusus hip-hop yang bisa berdiri sendiri dan self finance kayak misalnya ffwd untuk musik pop. NCR : Menurut kamu sampai kapan kamu akan terus maen musik? Ucok : Sampai saya males maen sesuatu mungkin ya? Tapi kalau Homicide sendiri rencananya tahun ini mau diberesin, artinya ini album terakhir yang kita keluarkan. Ini bakal jadi album pertama dengan Aszi lagi dan yang terakhir. Banyak pertimbangannya, kita rasa udah cukup, udah kelamaan. Dari 1994 sampai 2007, udah 13 tahun. Memang udah harus dibunuh, udah mulai jadi mitos nggak jelas. Dan saya juga mau mengeksplorasi hal-hal baru yang nggak bisa dilakukan kalau masih membawa nama Homicide. Alasan terbesar sih karena itu tadi, Homicide udah jadi mitos, terlalu banyak stigma-stigma yang sebenarnya nggak kita sukai. Orang mikirnya Homicide itu A, padahal B. NCR : Kalau permasalahannya itu,kenapa nggak berusaha memunculkan image baru aja? Ucok : yah memunculkan image baru kan berarti mengubah nama. Karena image itu melekat banget. Sebagus apapun partai Golkar, tetap aja itu partai Golkar, kecuali dia mengubah nama. Tapi gue juga udah memulai band baru. Jadi rencana gue buat Homicide, menyelesaikan album split, lantas album baru dengan materi yang nggak terlalu banyak, sekitar 8 atau 9 lagu. Terus tour kota-kota kecil di Jawa, Malaysia, Singapore dan manggung terakhir di Bandung. Kelar itu udah. Maunya sih gitu, karena gimanya ya? Udah bosen juga kayaknya. NCR : Warna musik band baru kamu ntar gimana? Ucok : Masih hip-hop juga sebenarnya. Tapi ntah orang bakal bilang itu hip-hop atau bukan. Buat gue sih esensinya masih hip-hop, tapi mungkin noise nya bakal lebih banyak. Gue sendiri masih mengira-ngira outputnya bakal kayak apa. Yang pasti bakal jauh dari Homicide. NCR : Coba kamu gambarin apa itu Homicide dalam kata-kata kamu Ucok : Homicide itu output dari bentuk pertemanan gue dengan beberapa orang untuk merealisasikan ide-ide gue. Kenapa gue bilang gitu? Karena tanpa temen-temen gue gak bakal mungkin gue bisa eksis. Orang-orang sering bilang Homicide itu gue, padahal nggak juga. Di situ ada si Iwan yang pengauhnya gede. Lucunya ide-ide mereka sama sekali nggak terlibat dengan ide-ide gue. Si Iwan sendiri sama sekali nggak tertarik dengan politik. NCR : Gimana kamu ngeliat acara indie sekarang yang sering disponsori korporasi raksasa? Ucok : Dari dulu juga gitu kan? Permasalah di anak-anak dari dulu sama, ada yang setuju disponsori korporasi raksasa, ada yang nggak. Cuma dulu si korporasinya yang justru nggak tertarik. Sekarang mungkin korporasi itu melihat kalau ini ternyata pasar yang cukup besar. Di scene sendiri ini bukan masalah, kita saling menghormati aja pilihan orang. Tapi kalau saya sendiri memang punya syarat-syarat sendiri kalau mau manggung di acara. Misalnya kayak acara kemaren di Jogja, seharusnya tanggal 7 (Maret) saya main di sana, tapi di detik-detik terakhir acaranya dibeli sama Djarum dan kita terpaksa nolak. Panitianya juga santai menyikapi penolakan kita, mereka ngerti. NCR : Emang syarat-syaratnya apa aja? Ucok : Syarat utama sih, nggak ada sponsor korporasi secara obvious. Kalau yang lain-lain sih masih negotiable. Misalnya ternyata acaranay disponsori bisnis lokal, yah itu nggak apa-apa. Atau kalau ternyata nggak dibayar, itu juga nggak masalah. NCR : Distro-distro sendiri kan sekarang udah jadi korporasi. Emang definisi korporat itu gimana? Ucok : Ada perbedaan mendasar antara korporasi lokal dengan korporasi besar. Memang intinya sama saja, pola produksi di bawah sistem kapitalisme kan sama saja. Tapi kalau korporasi besar kan saya nggak bisa tahu banyak tentang mereka. Intinya semakin besar suatu perusahaan maka semakin besar bala yang mereka hasilkan. Perusahaan kecil mungkin juga menindas, tapi kan hanya menindas beberapa orang. Katakanlah ada beberapa perusahaan berbasis ekonomi yang didirikan anak-anak itu yang tidak adil secara internal mereka, namun kalau terlalu kita pikirkan, itu bakal memperumit kita lagi. Kita harus memilah-milah lagi. Lagian sekarang itu yang paling penting itu ngelawan image. Ujung tombak kapitalisme itu kan image, kita sekarang ini lagi perang image. Sekarang situasinya gini, misalkan kita bilang kita anti Djarum, itu bukan berarti kita nggak anti sama yang lain. Cuma kan ada prioritas yang harus kita kedepankan. Seperti teori iklan, kita harus fokus di suatu titik yang strategis. Teori itu diamini juga di politik, dalam propaganda. Kita misalnya sekarang lagi mengedepankan masalah perusahaan Caterpillar yang mensponsori penggusuran orang-orang di Palestina. Dia mengirim buldoser, dll dan mensponsori Israel untuk menjajah Palestina. Nah, dengan mengedepankan masalah itu bukan berarti kita menganggap perusahaan-perusahaan lain baik, cuma kita punya skala prioritas di mana ada yang strategis ada yang nggak. Akan susah relevansinya sekarang kalau kita membahas Nestle. Nestle itu kan penjahat ya, mereka bertanggung jawab atas kelaparan di Ethiopia. Tapi sangat susah membahas Nestle karena skala produk mereka sangat beragam dan memerlukan studi gila-gilaan untuk menentukan produk apa saja yang mereka hasilkan. Kemudian isu ini tidak akan populer di publik karena isunya nggak dekat. NCR : Di MySpace juga kamu mengajukan keberatan terhadap MySpace sendiri, itu kenapa? Ucok : Karena MySpace dibeli sama Rupert Murdoch. Dia kan yang punya Fox dan yang saya tahu Fox itu termasuk perusahaan yang mendukung penjajahan Israel terhadap Palestina. Dan dia juga menguasai banyak media-media di dunia di mana dia bisa mengontrol isinya. Jadi sangat gampang buat dia untuk menciptakan kebohongan publik. Siapa yang megang media kan dia yang megang dunia. NCR : Dari semua kampanye perlawanan ini, tujuan akhir yang ingin dicapai apa sih sebenarnya? Ucok : Tujuan dari kegiatan anak-anak sih sebenarnya sama, pertama : hidup senang-senang. Supaya hidup tidak membosankan maka perlu dibuat agenda yang rock and roll. Itu yang penting! Jadi sebenarnya salah kalau ideologi kita adalah menuju masyarakat yang madani, blablabla. Yang kedua sih kita pengen ada yang berubah di dunia ini, jadi kita mencoba mengubah sesuatu yang bisa diubah. Tujuan akhirnya sih ya itu, hidup rock en roll dan senang-senang. Misalnya anak saya bisa sekolah murah dan susu juga murah, kan saya senang.
Salah satu wawancara terakhir dengan Homicide sebelum mereka bener2 bubar kemarin. Diwawancarai oleh Dewi mewakili harian Pikiran Rakyat, koran harian di Jawa Barat pada bulan Mei 2007 lalu pas hari buruh. Thanks. +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Ucok Homicide ; "Dunia Ini tidak Baik-baik Saja" MENYEBUT salah satu musisi hip hop lokal, boleh jadi kebanyakan para penggemar hip hop akan menyebut Homicide di jajaran terdepan. Bahkan, untuk orang-orang yang tidak suka hip hop atau politik sekalipun, terpaksa harus menaruh perhatian pada band asal Bandung yang satu ini. Politis dengan berbalut musik hip hop, itulah Homicide. Lewat dua minialbum yang pernah dikeluarkan, "Prosa Tanpa Tuhan" (2003) dan "The Nekrophone Days" (2006), Homicide banyak menyuarakan isu-isu sosial politik, dari mulai pasar bebas, utang negara, sampai budaya konsumerisme, yang dituangkan dalam rhyme-nya. Kabar baik bagi penyimak karya mereka, Homicide akan kembali mengeluarkan album dalam waktu dekat. Akan tetapi, kabar buruknya, itu akan jadi album salam perpisahan mereka. Adalah Ucok a.k.a Morgue Vanguard, sosok yang tak bisa dilepaskan dari Homicide. Selain menjadi MC, lelaki bernama asli Herry Sutresna ini, juga banyak berperan dalam mencipta lirik-lirik lagu yang begitu tajam, menyilet, dan genius itu. Bukan hanya menunjukkan garis perlawanan lewat musik, Ucok juga aktif berjejaring dengan berbagai komunitas, dalam rangka kampanye komunitas melawan neoliberalisme. Salah satu bentuk kampanye itu berupa media gratisan bernama Jurnal Apokalips, yang beredar di beberapa komunitas buku, seni, sampai serikat buruh di Kota Bandung. Bagi Ucok, neoliberalisme tak ubahnya sebuah sistem yang membuat dunia menjadi lebih tidak adil lagi, yang akhirnya hanya akan memenangkan segelintir orang, yaitu pemilik modal terkuat. Jika dulu ruang lingkupnya lebih kecil, kini aktor-aktornya pun bisa lintas etnis, lintas negara, dsb. "Sialnya, Indonesia punya sumber daya melimpah, tenaga kerja murah, dan pasar strategis, yang bisa jadi lahan empuk untuk imperialisme baru masuk ke sini. Untuk menghadangnya harus ada peningkatan kualitas, yang notabene butuh pendidikan. Sementara itu, akses ke pendidikan mahal," kata lelaki yang punya ciri khas berikat kepala ini. Lulusan FSRD ITB kelahiran tahun 1974, yang kesehariannya berprofesi sebagai desainer ini, seolah tak kehabisan energi untuk berdiri tegak menolak segala macam bentuk penjajahan model baru tersebut. Simak obrolan Kampus dengan ayah tiga anak ini, tentang album baru Homicide, pilihannya untuk fokus di komunitas, sampai pada interes politik mahasiswa. Obrolan berlangsung di Common Room, Kamis (26/4), dan saat dirinya ikut bersimpati pada aksi hari buruh di GOR Saparua, Kota Bandung, Selasa (1/5). PR: Homicide sudah belasan tahun, tetapi kenapa minim rilisan? Dan kenapa disudahi? Karena nggak punya duit aja. Pernah ada tiga label besar yang nawarin, tetapi pilih mandiri aja, daripada banyak kompromi. Dibubarin itu karena ya udah kejauhan aja. Tapi saya mah mau tetap nge-band, he he he. Hanya Homicide aja yang bubar karena sudah kelamaan, 13 tahun. Sudah terlalu jadi mitos juga. Menyebalkan kan kalau kayak gitu. PR: Jadi legenda maksudnya? Sebenarnya ada enak dan nggak enaknya. Enaknya, bisa ketemu dan komunikasi sama banyak orang. Nggak enaknya ya gitu, misalnya, diomongin gini gitu, baik komentar positif maupun negatif. Akan tetapi, dua-duanya dampaknya banyak yang buruk. Saya pernah ketemu sama anak SMA. Katanya nge-fans berat, pas sudah ketemu saya, lalu dia nggak bisa ngomong. Dipikirnya teh saya gimana-gimana. Sebenarnya itu kan malah jadi kontraproduktif. Malah saya inginnya dia biasa aja. Jangan melihat saya sebagai sosok apa, gitu. Ada juga yang lebih mengerikan. Kadang diomongin orang nggak jelas. Dampak negatif kayak teror, dsb., ah sudah malas lah. Kadang ada juga orang yang mau terlibat sama saya karena hanya melihat Homicide-nya. Padahal yang saya perlukan, keterlibatan karena kesadaran dia, bukan karena diajak saya yang personel Homicide. PR: Cerita soal album barunya, dong! Kita ada tiga projek, yaitu split album sama band Prancis, Mary Read Collectives, sama-sama hip hop juga. Dibikin dan dirilis di Prancis, kita hanya kirim materi aja. Juga ada split album sama MC Homeless dari Amerika. Yang ketiga, album sendiri. Di sini, si Aszi balik lagi, jadi sekarang sama Iwan (DJ), Aszi (MC), dan Andre (gitaris). Rencananya dirilis Agustus. PR: Kamu berharap apa pada orang yang mendengar lagu-lagu Homicide? Motif saya mah simpel. Yang namanya informasi di luar sana kan banyak banget. Mau menangkap kebenaran itu susah. Kalau ibaratnya di luar adalah lautan, saya hanya melempar pasir. Dengan harapan, orang bisa manangkap pesan kecil bahwa dunia ini tidak baik-baik aja. Everything is not okay. Apakah kemudian nanti orang mau aktif, mau gelisah, mau tidur, mau diam, ya nggak masalah. PR: Apa tanggapan kamu untuk orang-orang yang bilang kamu hanya omong kosong? Beu.., banyak! Biar aja, nggak mesti saya jawab. Orang-orang nggak percaya sama saya, ngapain juga mikirin saya, pikirin aja hidupnya sendiri. Selama ini saya komunikasi dengan kawan-kawan yang tertarik. Akan tetapi bukan berarti saya nggak berteman sama mereka atau sama orang yang tidak suka politik. Cuma artinya, saya hanya peduli sama orang yang peduli. Yang tidak tertarik, yang caci maki, yang bilang bull shit, ya itu nggak apa-apa. Marah-marah malah menghabiskan energi. PR: Omong-omong tentang politik, menurut kamu gimana interes anak muda ke sana? Aktivitas politik itu tidak menarik untuk anak muda, kenapa? Karena nggak keren! Lebih dari itu, coba lihat aktivitas politik mahasiswa di kampus, itu tuh monoton. Nggak ada orang-orang yang alternatif, yang bisa punya banyak pemikiran. Saya yakin, makin homogen aktivitas itu, makin miskin juga imajinasi di situ. Jadi, ya gitu-gitu aja karena orang-orangnya yang itu-itu aja. Sedangkan anak muda lainnya, berpikir bahwa politik itu nggak keren, bikin malas, dsb. Padahal, kenapa juga nggak dibikin keren? Buat saya, ada dua politik, yaitu politik pakai "p" besar, yang urusannya sama partai, pemilu, dewan, dsb, yang pening lah kalau dipikirin. Nah, kita sebenarnya bisa ngomongin politik yang pakai "p" kecil. Gimana cara kita mengorganisasi kawan-kawan kita, masyarakat terdekat, lalu punya kekuatan sendiri untuk mengubah sesuatu ke arah yang dianggap lebih baik. Paling tidak, nasib kita sendiri lah. PR: Dari partai politik sekarang fokus di komunitas, kenapa? Semenjak tidak aktif di partai (PRD-red.), saya masih ingin terlibat dalam perubahan. Hanya fokusnya aja yang pindah. Dalam ruang lingkup kecil, yaitu ruang lingkup komunitas. Saya memfokuskan diri di komunitas karena itu yang paling dekat. Sebenarnya sih, sesederhana itu aja. Kalian ada di mana dan apa yang bisa dilakukan. Contoh, kawan-kawan mahasiswa yang concern pada pendidikan, ya berjuanglah di situ. Karena secara tidak langsung membantu orang lain juga. Kawan-kawan di PTN misalnya, dibadanhukumkan itu kan sebenarnya hanya istilah lain menjual pendidikan ke orang-orang yang punya duit. Jangan isu jauh dulu lah. Bukan berarti isu "besar" nggak penting. Isu semacam korupsi dewan juga penting, tetapi energinya jangan habis di situ. PR: Pendapat kamu tentang partai politik? Itu flu burung, harus dibasmi, ha ha ha. Coba pikir aja lah. Kurang lawak apa coba. Meskipun saya pernah masuk partai dan akhirnya saya tahu. Partai politik itu, ya seperti yang dilihat, ya seperti itu. Rakyat juga tahu, korupnya kayak apa. Pas kampanye apa, lalu jadinya apa. Sia-sia itu pemilu. Sebenarnya yang akan mengubah sesuatu secara signifikan adalah keterlibatan orang di komunitasnya sendiri untuk mengubah sesuatu. Bukan secara pasif nyolok partai, lalu mengharapkan partai itu melakukan perubahan. Seolah-olah lo menyerahkan kuasa hidup lo sama seseorang, yang nggak tahu hidup lo mesti diapain. Padahal sudah jelas, kalau ingin mengubah sesuatu, ya organisasi diri lo, teman-teman, masyarakat, untuk mengubah apa pun yang mau diubah. Coblos hanya menghasilkan statistik, lalu sisanya adalah lawak. Mereka pikir hidup sudah selesai dengan mencoblos, padahal ya tidak. PR: Soal keberagaman untuk melawan neoliberalisme seperti yang kamu bilang? Keberagaman itu perlu ada karena neoliberalisme adalah mekanisme penyeragaman, dari pihak mana pun yang punya modal kuat. Untuk level konsumsi, riilnya ada bagusnya kalau kita mengonsumsi produk-produk kawan-kawan sendiri. Biar duit muternya di sini-sini juga. Contoh, industri clothing di Bandung. Industri lokal kayak gitu bisa memperkuat ekonomi lokal. Lepas dari budaya konsumerismenya, industri clothing lokal itu sudah memberi nafkah beberapa orang. Perlawanan tidak selalu harus revolusioner meski aktivitas itu harus tetap dilakukan. Justru untuk melakukan sesuatu, yang banyak diharapkan adalah orang-orang kelas menengah kayak kita ini. Kelas menengah itu lebih sedikit dibanding kelas buruh, cuma pengaruhnya bisa lebih vokal, untuk bantu yang tertindas haknya, dsb. Namun sebenarnya tinggal memilih, mau diam atau ngapain, ya terserah aja. *** dewi irma kampus_pr@yahoo.com
Ini juga interview yang udah lama juga, tahun 2004, pernah dipasang di www.deathrockstar.tk dulu, menjelang pemilu dan anak si Ucok masih dua (hehehee, keliatan di jawaban pertanyaan terakhir pas jawab album favorit), Diwawancara oleh Eric Wiryanata, menurut saya ini salah satu interview dengan Ucok yang paling menarik, karena jawaban2nya ga standar malah keliatannya Ucok menjawabnya sambil mabukssss, hahahah. Becanda Cok!... Thnks =========================================== Originally Published by Ryan Koesuma January 4, 2004 Sebuah rekaman kaset cukup untuk membuat saya tertarik untuk mengenal mereka lebih jauh, makin tertarik setelah membaca lirik lirik dan tulisan tulisan mereka diberbagai media newsletter atau cuma selembar kertas. Album yang membuat saya kecewa telah memberikannya pada pereview DRS yang anti musik sejenis… Homicide sudah memberikan harapan dan pencerahan baru pada saya tentang apa yang disebut Hip-Hop atau Rap ? kalimat tersebut ga terlalu berlebihan kok? dan melalui interview ini beberapa keingintahuan saya terpenuhi dengan jawaban jawaban yang menyenangkan? Interview by Eric Wiryanata Eric: image apa yang ingin dibangun dengan menggunakan nama “Homicide’? Image? apa ya, bingung saya, waktu pertama bikin, dulu taun 1995, ngga ada pikiran mau bikin image apa…, Sebenernya si Lephe yang dapet nama itu, tadinya Verbal Homicide, terus dianggap kepanjangan ya dipendekin jadi Homicide doang. udah gitu aja cerita dibalik nama sih…. Eric: selama ini Homicide dikenal sebagai band Hip-Hop. menurut pandangan loe sendiri apa itu Hip-Hop? Buset…, apa ya? yang ada dipikiran lu apa? buat saya sih hiphop itu ya saya, saya adalah hiphop, pemaknaan atas eksistensi, bukan produk yang dibikin definisi dan eksistensinya ama orang. So that’s it…, sori kalo jawaban saya pendek dan ngga memuaskan, abis saya bingung mau dijabarin sedeskriptif apa label-labelan kayak gini… Eric: lirik lirik rhyme yang Homicide buat, menurut gue unik banget dan menarik. darimana Homicide mendapatkan sumber sumber inspirasi penulisan lirik? dan bagaimana biasanya proses penulisan itu terjadi? Sumber inspirasi saya bejibun, tergantung dari sumber atas inpirasi model apa, technicly or spiritualy or (dare i say) ideologicaly? contohnya, inspirasi saya untuk nulis rhyme didapet dari pengalaman setengah umur saya dengerin hiphop dari Public Enemy sampai Quasimoto, dari The Last Poets sampai Company Flow. Lebih teknis lagi cara saya nemuin konstruksi rhyme saya diinpirasikan ama Rakim dan KRS-One, lebih teknis lagi cara saya bermetafor saya ketularan El-P, Bigg Jus dan Mr.Len, lebih teknis lagi; inpirasi atas penemuan eksotisme atas rima saya dapet dari sejarah berabad-abad manusia nulis puisi, prosa dan rima tentunya…, contoh lain; inspirasi atas penulisan musik saya berhutang banyak ama mereka yang menemukan jeep beats, dari Gangstarr sampe EPMD sampe (tentunya) Public Enemy (Long Island sounds rules!!!), cara saya maling kebrisikan dunia dan saya masukin ke komposisi saya terinpirasi the Bomb Squad, Merzbow, Godflesh dan mereka-mereka yang gak betah diam di dunia tangga nada, dan…. ah banyaklah jadi ya… inspirasi terhadap apa dulu… Dan kalo ngomongin proses juga bisa macem-macem, selalu berganti-ganti, dan saya sendiri terus nyari proses-proses kreatif dalam penulisan lirik, ngga mau mentok dan puas disitu-situ aja, tapi umumnya saya berangkat dari beat, selalu beat sebagai parameter, karena saya pengen rima saya merespon sesuatu, dan acuannya kalo ngga orang yang nantangin battle ya ritme atau beat itu tadi. Biasanya saya berangkat dari free-flow freestyle, tapi seringnya saya ngga puas ama format freestyle karena bentuknya sendiri yang ?loose? dan ngga terlalu konseptual dan ngga terlalu ngehajar atmosfer benak orang secara mendalam. Sejujurnya saya lebih suka written rhymes daripada lirik freestyle meski ngga selalu. Eric: membaca lirik lirik Homicide yang tampak sarat dengan pesan pesan yang kadang nyerempet ke politik. apa visi dan misi loe dengan lirik lirik tersebut? Nyerempet politik?, fuck it…, my shit is exteremly political, hkahkahkhakhak, ngga becanda, tapi…, mmm ngga juga…, maksud saya gini, ini menyangkut banyak dengan persepsi lu sendiri terhadap term ‘politik’ dan ‘politikal’. Pernah ngga denger jawaban orang kalo ditanya kenapa lirik lu tentang cinta? pastilah jawabannya: “saya ngga bisa nulis lagu politis atau tema-tema sosial dsb…dsb”… hkhkhkk, sekarang silahkan pikirin lagi apa bedanya lagu cinta dengan lagu politik atau lagu emo dan lirik propaganda? they’re the same shit different smell buat saya…, Buat saya sendiri lirik saya adalah lirik ‘personal’, karena saya tak pernah membuat lirik yang tak ada hubungannya dengan pengalaman personal. Buat saya lirik saya lirik emo karena buat apa nulis lirik kalo emosi ngga jalan dan ngga dipake? Cuman orang tolol yang bikin lirik ngga dijiwai dan ngga dihidupi. Intinya: i really hate the fuckin term!. Saya benci klasifikasi model begini. Seolah-olah sesuatu yang personal itu kagak politis, dan yang politis itu ada dikutub berbeda dengan perasaan personal. Seolah-olah halpersonaldan politis ada di dua kutub berbeda yang berlawanan dan manusia disuruh memilih diantara dua pilihan tadi; “being personal or political”. Fuck that. Saya benci pengkelasan seperti ini karena membuat segala sesuatu menjadi didangkalkan seperti tadi. Label lirik politis dan lirik personal membuat kita berfikir seolah-olah yang politis itu tak memiliki hasrat dan bukan manusia. Hanya sekedar sebuah ‘mesin politik’ yang kagak bisa nangis dan tertawa. Ini aneh, seolah mereka yang membicarakan cinta itu tak memiliki kebencian dan yang memiliki kemuakan atas sesuatu tak bisa mencintai sesuatu. Visi dan Misi? kok pertanyaannya kayak nanya ke ketua OSIS sih? apa ya visi dan misi saya? mmmm…. ngarang aja ya? visinya matahari dan misinya bikin sayap yang lebih kokoh dari ikarus…. Eric: saat ini cukup banyak kelompok kelompok yang menggunakan label hip-hop bertebaran di televisi. menurut loe apa yang bisa membedakan Homicide dengan mereka? Bedanya banyak, mungkin lu justru harus bertanya tentang persamaannya. Lu justru harus mempertanyakan kenapa kami semua dilabelin dan dianggap hiphop, padahal beda-beda. Tunggu….hiphop? lho… bukannya kata orang-orang di scene hiphop indo kami ini band punk? Eric: apakah aliran “sayap kiri” itu buat loe? apa Homicide berada dibagian tersebut? Aduh, sayap kiri? itu bukannya bahasa yang dipake orang di abad kemaren? wah kagak begawl lu…., udah kagak ngtrend lagi ‘bo…, kami sekarang berada di sayap jibril, sayap ikarus, sayap ababil dan sayap naga. (konon naga punya sayap meski kecil dan dilupain orang…, kan mitosnya naga bisa terbang, nah pasti punya sayap kan?)…., c’mon……!!! WTC udah runtuh, Cina udah masuk WTO, Che Guavara udah ditemuin mayatnya, Osama bin Laden tambah panjang jenggotnya, Madonna tambah tua, anak saya udah dua… ayolah tinggalin aja left-right-wing bullshit model begitu dan kasiin buat para asshole neo-feodal yang masih pengen tinggal di dunia lama. ….yaknawwhatamsyn??? tapi kalo pelu deskripsi tentang apa fondasi ideologis saya OK: politik saya lebih radikal dari politik ke-kiri-kirian yang tentu lebih ekstrim militansinya dari politik ke-kanan-kanan-an, dan tentu saja lebih fundamental dari semua fundamentalis yang lebih organik dari semua fondasi filsafat yang pernah lahir di muka bumi yang suka dijadiin ruang pembenaran buat orang-orang yang gemar memilih ditengah-tengah….., Hakakakakakakkhkhkhk….., Eric: darimana loe mendapatkan inspirasi menggunakan teknik ngerap seperti yang elo jalanin sekarang? Dari macem-macem…, anjir sori, tadi saya kebablasan ngejawab pertanyaan nomor dua, harusnya disisain untuk nomor ini. Sori… sori… Eric: bagaimana biasanya proses sebuah lagu jadi. dan bagaimana biasanya loe memutuskan apakah sebuah sample akan digunakan dalam lagu atau tidak? Biasanya saya berangkat dari lirik. Tapi ngga juga sering juga saya denger lagu atau sample yang menggugah dari apapun mulai dari suara tongeret, soundtrack film atau lagu yang kemudian diloop dan baru nulis lirik, udah nyampe komposisinya baru saya bikin konstruksi utuhnya. Tapi ada juga hasil nge-jam dan nulis lirik sesabetnya. Macem-macemlah, ngga ada proses tunggal. Eric: bagaimana suasana pertunjukan Homicide yang paling ideal. sehingga baik Homicide dan penonton bisa meraih hasil kepuasan yang maksimal? Pertunjukkan yang ideal itu ngga ada, yang ada pertunjukkan yang asik. Yang asik bagi kami adalah pertunjukkan yang kami bisa komunikasi dua arah dengan yang nonton (bukan penonton). Bentuk komunikasinya banyak, kadang ada yang cuman joged peduli setan sekuriti panggung, ada yang neriakin terus kami timpali, ada yang naik panggung ngambil mik dan ikut nge-rhyme, terserah mau battle sekalipun oke. Pertunjukkan yang asik itu yang bisa ngeruntuhin barikade mitos ‘artis-penonton/fans’ antara saya yang dipanggung dan mereka yang diiluar panggung. Pertunjukkan yang asoy kayak gitu susah kalo format acaranya seperti yang selama ini kita alamin, saya pribadi lebih cenderung memilih panggung kecil, pertunjukan sederhana yang ngga banyak orang tapi semua yang datang bisa berpartisipasi aktif didalammnya bukan cuman pasif nonton, ngapain kek bikin kegaduhan ritmik sendiri kek, set-up meja literatur kek, ngajak band debat kek, apa ajalah pokoknya harmoni dari chaos yang jalan begitu aja. Acara model begini banyak yang bilang mustahil, ah itu mah kagak gaol aja hkhkhk… udah banyak acara begini terlaksana dengan sukses dan rutin, di Bandung sendiri udah sering acara begini terorganisir sampe selesai…, meski tipe acaranya acara hardcore/punk. Kalo saya dituduh membual-bual silahkan datang ke acara kawan-kawan yang ngorganisir acara benefit buat Food Not Bombs lokal bulan depan, kalo ngga salah nama eventnya Prideless Fest, yang maen dari Cabinet sampe Domestik Doktrin sampe Bones Brigade sampe A Friend 4 Life. Tapi sbenernya sih dari dulu, jauh hari dulu, juga udah sering kejadian fenomena kayak gini cuman kita ngga sadar aja, contohnya dulu di kampus Unpad Dipatiukur setiap malam apa gitu (saya lupa), kolektif/unit keroncongan di kampus itu sering ngadain acara dadakan rutin di lapangan dalem kampus, tapi sekarang udah ngga ada lagi, ?sayang, pada kemana ya mereka? Eric: tolong dong ceritakan tentang album Homicide yang akan datang? Rencana sih bikin satu album full, udah saya seleksi materinya sekitar 8 atau 9 lagu. Tadinya mau dirilis Groove Records, but something happened then fuck it we?ll do it on our own way. Materinya setengah lama (yang dirombak ulang) dan setengah baru. Dibantu oleh lebih banyak lagi temen dalam proyek ini, beberapa materi musik ada yang ditulis bareng Jojon Balcony dan beberapa ada yang dibantu Udi dari Pure Saturday. Beberapa materi baru yang menakjubkan buat saya pribadi adalah materi yang dibikin bareng Iwan aka DJ E, anggota The Cronic, dia maenin turntable dengan manual-style, offbeat dan buas yang sisanya saya tambahin noise respon yang entah nanti dimixingnya kayak gimana, saya belum dapet gambaran, gimana nanti aja di studio. Album ini saya arahkan secara sound untuk nantinya biar rada ‘epic’. Secara lirikal, seperti biasa, ‘political as Hemingway, Kafka and Chairil Anwar did’, dan ‘personal as Debord, Toni Negri & Tan Malaka did? bedanya secara teknis mungkin kali ini saya menghindari metafor ikonik sebisa mungkin. Rencana sih pengennya masuk studio April ini tapi entahlah biasa…. ngumpulin dokat kadang-kadang suka memolorkan waktu. Rencananya bakal saya kasih judul “RISALAH PEZIARAH MAKAM PARA PELULUH LANTAH THAGUT YANG RATA DENGAN TANAH”, kepanjangan ngga ya? Eric: 5 album rekaman yang menurut loe paling berpengaruh buat loe? Lima? akhhh… gua kasih sebelas aja yah, karena anak gua yang kedua lahir tanggal sebelas..: Fear of A Black Planet - Public Enemy Funcrusher Plus - Company Flow Diskografi - Minor Threat Monuments to Thieves - His Hero is Gone Lift Your Skinny Fist Like Antennas To Heaven - Godspeed, You Black Emperor! Heartwork - Carcass Fantastic Damage - El P Shape of Punk to Come - Refused Dummy - Portishead Streetcleaner - Godflesh South of Heaven - Slayer Eric: pesan pesan ? Election Day is a bitch!… hoe-ass bitch!!!, makasih udah mau ngewawancara.
Berikut adalah interview lama dari tahun 2005, Homicide yang diwakili Ucok diwawancarai oleh Ben Harkness, wartawan majalah Australia, Inside Indonesia. Terima kasih buat bung Dennybaonk yang sudah menunjukkan saya arsip ini. ============================================================== Homicide and hip-hop, Bandung’s outspoken rap group Interviewed by Ben Harkness for Inside Indonesia Magazine Hip-hop, or rap music, is on the rise in Indonesia. Groups rapping about the frustrations and uncertainties they face in everyday life are finding a large audience among urban youth. Michael Bodden’s article Urban poets detailed this trend in the July-September 2005 edition of Inside Indonesia. The current wave of hip-hop is not the first time the genre has risen to popularity. The early nineties saw the first hip-hop acts gain varying degrees of success in Indonesia. Unlike other forms of often politically-conscious music such as punk, which thrived in the underground music scene in the nineties, hip-hop has had much less to show for its efforts. The Bandung hip-hop band Homicide formed in early 1995. Relative veterans of the hip-hop scene, Homicide pride themselves on being overtly political. With their aggressive style and confrontational on-stage oration, Homicide has collected a loyal fan base and a notorious reputation.I spoke to Homicide’s front man, Ucok, about their music, politics and the state of hip-hop in Indonesia. Ben: Homicide has been part of the hip-hop scene for over ten years. Have there been many changes over that period? A lot has changed since the early nineties. There are a lot of really good groups in Indonesia now that are very different to the earlier hip-hop groups and really different to Homicide too. These days there are a lot of styles and approaches. When the original line-up behind Homicide first got together, hip-hop was still in its infancy. A few years prior, hip-hop had made some inroads in Indonesia. But there wasn’t really a hip-hop scene so to speak. This meant that looking for people with similar interests in making this sort of music was really tough. Finding someone to help record and produce the music was even tougher. These days it seems the music scene in Indonesia is a little more conducive to allowing new groups to go their own way. The infrastructure of the independent music industry is far more developed than it was a few years ago. The problem now is that radio stations aren’t ready and the media are still scared. That is one of the main differences between Indonesia and say America or Europe, where more outspoken or controversial bands can be appreciated for what they are. Ben: Your lyrics are often critical of society. What issues does Homicide consider important? When we were starting out, we took a lot of inspiration from bands like the New York groups The Last Poets and Public Enemy. The Last Poets were a group of African-American Muslims. These guys met in prison after refusing to go to Vietnam. They used to perform their poetry, a lot of it politically-charged, on the street corners of Harlem. Public Enemy, on the other hand, brought a social and political conscience to hip-hop in the eighties. Their approach was about more than just the music. They were intent on enjoying themselves but having something to say at the same time. Our style is quite similar to theirs. Our music expresses our views of the world. The issues we deal with are quite varied but essentially we encourage young Indonesians to look beyond the lifestyles that the government and the corporations feed them. We want to encourage discussion about individual and collective ways to establish economic, cultural and political autonomy. Ben: Have the issues that Homicide sees as important changed since the band first formed? Yes, a lot has changed. If it hadn’t I think that would be dangerous. A band should never become stagnant. We see a lot of issues differently now. When Homicide began, most local bands were atrocious. The Indonesian music scene was really uninspiring for young, up and coming artists. We were very vocal in criticizing the state of Indonesian hip-hop in particular. It was a common theme in our earlier songs. We saw many groups using hip-hop as a means to fame or fortune, and not for raising awareness among young people. This doesn’t bother us so much anymore. We’re more focused about what we as a group are doing, rather than the industry as a whole. It is often hard for young Indonesians to find easily accessible creative outlets. If hip-hop can provide opportunities for creative expression then that is a positive thing. Some Indonesian hip-hop acts rap about their frustrations, their relationships. Others are just rapping about nothing, which is ok anyway. Its just not many Indonesian hip-hop groups are concerned with social or political issues. Very few are pushing the envelope, or could be considered controversial. Most are just playing it safe, staying within a comfort zone. But we’re fine with that now. What is Homicide’s relationship with the media like? Homicide has avoided media attention. We have largely ignored market pressures. This wasn’t a deliberate choice though. We just went with our instincts. We were far more comfortable being who we were, rather than becoming a market-orientated mouthpiece. In all honesty, we don’t have a problem if we appeal to a mainstream audience, as long as we stay true to ourselves. If we achieve our main aims and enlighten the community, there’s no problem. Ben: Hip-hop, much like punk, has its roots in social commentary and protest. Does it surprise you that hip-hop in Indonesia is only now gaining its feet while punk as a movement reached its peak a few years ago? No. Hip-hop is different to punk. Its impact has also been very different. Punk has, over a number of years, built a strong foundation in the music industry. Today there is strong infrastructure behind punk and punk makes a significant contribution to the music community. Compare this to hip-hop. There have been several waves of hip-hop in Indonesia over the years, but there is nothing to show for this, with the exception perhaps of passé trends. But with the current resurgence of hip-hop in Indonesia I hope things can change. I strongly believe hip-hop should establish its own record label and its own networks, much like those established by the punk movement a few years ago. The lack of such support has been a big factor in hip-hop being only a transient force. The larger record labels signing new hip-hop acts still turn many of these acts into half-baked entertainment for the sake of profit. A hip-hop label would allow a greater appreciation of hip-hop as a genre, and greater appreciation of the talents of young hip-hop groups. Ben: Since the fall of Suharto, much has changed in Indonesia. Have these changes affected the potency of hip-hop? No. Government change hasn’t affected hip-hop’s capacity to be a mouthpiece for social and political issues. That’s true for Homicide anyway. We have never let ourselves be intimidated by the government. If you want to voice an opinion, then voice it! At most you are followed by intelligence agents, or taken into custody after coming off stage and threatened with this and that. And that for me is no problem. Ben Harkness(ben.harkness@gmail.com) is joint guest editor of this edition of Inside Indonesia. Homicide (www.nekrophone.com) will shortly be releasing a retrospective album entitled, ‘The Necrophone Days: Remnants and Traces from the Days Worth Living’ through Subciety Records. Ucok publishes an online newsletter through www.zahramentari.com
Ucok pada setiap interviewnya, beberapa bulan sebelum Homicide dibubarkan, selalu menyebut tentang progress album barunya yang sedang digarap bersama Aszi dan DJ E. Kabar ini sempat tidak jelas seiring dengan dibubarkannya Homicide pas bulan Juli kemaren. Namun hari ini saya mendapat kabar dari 'poeticdigital' yang mem-post daftar rilisan Lil Fish Records selanjutnya setelah album baru Pure Saturday..., tebak... Damn right!!!! Album Homicide terakhir yang terputus ditengah jalan ternyata tetap akan dirilis!!!!!. Judulnya "ILLSHUREKSHUN", dan akan dirilis dalam bentuk CD mini album. Ini kabar terbaik bagi kalian yang memimpikan gabungnya kembali duet MC paling maut di tanah Jawa, Ucok-Aszi dalam satu album dan mengambil penantian panjang untuk album Homicide meski mereka sudah bubar kemarin. Ini pasti akan menjadi rilisan paling dinanti di ujung tahun ini. Kita tunggu kabar resmi selanjutnya!!!!
i said: "kiss me, you're beautiful - these are truly the last days" you grabbed my hand and we fell into it like a daydream or a fever - Dead Flag Blues, Godspeed You! Black Emperor. Sore itu saya terkaget-kaget ketika mengunjungi situs nekrophone.com. Biasanya dalam kurun waktu tertentu saya masuk kesitu untuk sekedar melihat kalau-kalau saja sudah ada update baru seputar informasi soal grup hiphop favorite saya, Homicide. Sore itu saya menemukan website mereka ditutup dan hanya menyisakan satu halaman dengan tulisan besar "HOMICIDE IS OVER" dan diikuti dengan kata-kata diatas tadi. Saya sungguh menyayangkan bubarnya Homicide. Sungguh bagi saya pribadi, Homicide merupakan salah satu grup musik (dan satu-satunya grup lokal) yang begitu banyak memberi pengaruh bagi kehidupan saya secara personal. Saya pertama kali mendengarkan Homicide ketika SMP di sebuah lagu milik Puppen, 'United Fist'. Sebelumnya saya pernah mendengar nama mereka hanya sebatas konon, dari kakak yang sudah cukup umur melihat mereka manggung di festival Hullabaloo ditahun 94-an. Dikala itu saya sama sekali tidak mendengarkan hiphop atau musik populer secara umumnya, maklum masih kelas 6 SD. Featuring mereka di album MKII milik Puppen itu cukup keras gaungnya, hipmetal waktu itu (atau gabungan antara metal/HC dan rap) belum begitu populer membuat lagu itu sangat stand-out pada masanya, terlebih di lokal. Dari situ saya mencari keberadaan dua MC yang konon tergabung dibawah nama Homicide sampai beberapa bulan kemudian saya mendapatkan album kompilasi 'Brain Beverages' yang berisikan band-band bawah tanah Bandung dan Homicide ada disitu sebagai salah satunya. Lagu mereka di kompilsi itu 'State of Hate' mencuri perhatian scene bawah tanah yang pada saat itu didominasi metal/punk/hc. Tiga orang MC; Aszi, Ucok dan Lephe, membelalakan mata scene lokal bahwa ada grup hiphop dengan aura pembrontakan yang begitu intens yang membuat hiphop tak lagi memalukan di tanah air. Namun hinga mereka bubar pun ternyata, mereka memang lebih eksis di scene HC/Punk dibandingkan popularitas mereka di scene hiphop sendiri. Tahun demi tahun sesudahnya, Homicide tak pernah merilis apapun kecuali CD-R demo mereka yang beredar terbatas, rumor mereka tak pernah solid gara-gara banyak hal, mulai dari urusan kebanyakan terlibat di pergerakan sampai tak punya duit. Mereka hanya eksis dibeberapa panggung kecil namun cukup fenomenal, salah satunya saya pernah mendengar mereka berteriak 'Hiphop is Dead!' disebuah acara rap ditahun 2000, kontroversial disaat orang2 belum mengerti frase itu. Hingga pada tahun 2002 mereka menggebrak lagi, kali ini mereka datang dengan dua surprise; Lephe keluar dan dua MC sisanya, Ucok dan Aszi merilis materi luar biasa, split dengan Balcony "Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan". Materi Homicide di split ini lah yang beredar kemana-mana, mp3-nya dikopi dari warnet ke warnet, PC ke PC terutama dua single klasik kontroversial mereka dari EP ini, "Puritan" dan "Semiotika Rajatega". Sempat pula jadi E.P bertitel "Prosa Tanpa Tuhan" dan beredar terbatas pula, dan di Malaysia dirilis ulang dengan diganti judul menjadi "Godzkilla Necronometry". Lirik mereka begitu kuat, cerdas, tajam menyilet dan tanpa basa-basi menampar status quo baik dalam bentuk tradisi hiphop lokal yang menyebalkan hingga tradisi musik politik yang selalu begitu-begitu saja. Mereka menyuguhkan sesuatu yang benar-benar baru bagi saya. Politik yang menyebalkan ditangan (mungkin lebih tepat di'mulut') mereka menjadi begitu 'rock n roll'. Style mereka berevolusi sedemikian rupa hingga begitu intens-nya, dan tak pernah ada sebelumnya di khasanah rap tanah air. Saya pernah baca resensi mereka yang menyebut usaha mereka mengawinkan bahasa 'intelektual' dan bahasa 'terminal' (bahasa tak senonoh) dengan begitu solidnya. Begitulah, Setiap sisi rima mereka hampir tak ada celah kelemahan, kecepatan-nya yang merepet, flow ajaib, metafor brilian, kecerdasan kata-kata membentuk sebuah thought-provoking message yang nyaris sempurna. Tahun-tahun berikutnya saya sempat mendengar mereka bubar, tepatnya Aszi aka Sarkasz yang menggantung mikropon dan meninggalkan Homicide dalam status tak jelas selama berapa lama. namun ini kemudian dibantah lagi dengan dobrakan dahsyat selanjutnya. The Nekrophone Dayz pun dibuat tahun 2006 awal dengan gelombang dampak lebih gila lagi. Album semi antologi itu mendapat review positif dari media bawah tanah hingga Rolling Stone dan Jakarta Post. Kali ini menghadirkan track2 baru dimana Ucok sendirian menggenggam mic tanpa menghilangkan sedikitpun kebuasan Homicide dalam hal lirik dan musik. bahkan lagu klasik baru lahir di album ini, dari 'Rima Ababil' hingga 'Belati Kalam Profan' dan tentunya track yang menggetarkan hati, 'Barisan Nisan'. Dari mereka pula saya mendapatkan perspektif baru mengenai politik. Politik yang menurut mereka tidak selalu berurusan dengan negara, parlemen dsb. Politik dengan 'p' kecil, bukan 'P' besar. Politik yang begitu menggairahkan, karena mereka mendobrak sekat anatara isu politik dan isu personal dengan begitu gamblangnya. Bahwa menentukan arah hidup kita sendiri dan berbagi kehidupan adalah isu politik yang paling penting. Ujar Ucok "menjalani hidup sehidup mungkin" adalah sebuah keputusan politik paling menentukan dalam hidup kita, yang kurang lebih artinya menolak tunduk pada arus hari ini, menolak satu blueprint tentang kehidupan, dan menjadikan hidup sebagai sebuah 'proyek' yang hanya akan berujung selesai jika kita mati. Terus terang, ini cukup banyak memberi saya arti. Homicide lebih dari sekedar memperkenalkan bentuk hiphop yang lain, atau mengenalkan saya pada banyak wacana diluar sana. Namun semua yang bagus dalam hidup memang cepat selesai, meskipun 13 tahun itu tidak sebentar, saya tetap menyayangkan Homicide bubar. Saya sempat mendengar Ucok meneruskan proyek Homicide dengan membentuk grup baru, Trigger Mortis. Saya menaruh banyak harapan disini. Semoga proyek musikalnya atau apapun itu, tidak berhenti sampai disini. Adios Homicide, thanks for inspiring years..., we owe u inspirations. ![]() ![]() ![]()
![]() Ini saya salin dari CD mereka juga, sebuah pengantar yang ditulis Ucok dalam sleeve CD The Nekrophone Dayz. Sehubungan dengan banyak orang yang punya materi mereka dalam bentuk mp3 tapi ga punya CDnya..., ini cukup penting, karena erat dengan sejarah mereka. meskipun singkat...., enjoy. Lumayan juga cape ngetik ulangnya.... =========================================== The Remnants and Traces From the Years Worth Living Saya menulis pengantar ini dengan ingatan pada satu pojok di halaman depan rumah Lephe, di sekitar Cisitu 11 tahun lalu. Hari itu adalah kali pertama dia, saya dan Aszi bertemu untuk kemudian menyepakati agenda membuat sebuah grup 'rap' yang representatif buat kami pada saat itu, setelah grup-grup kami masing-masing sebelumnya telah bubar dan kami luntang-lantung mencari 'partner'. Saat itu tak pernah terlintas di benak kami untuk menjadikan grup ini lebih dari sekedar kolektif hiphop belaka. Karena kami hanya berbicara dalam satu bahasa yang sama, dengan "Public Enemy", "BDP", "Rakim", "Gangstarr", dan "EPMD" sebagai kosakatanya. Itu jauh hari sebelum kami mengenal dunia dengan embel-embel tambahan seperti sosialisme, anarkisme, independensi, Tan Malaka, Hasan Hanafi, Marcos dan Noam Chomsky. Tapi sejujurnya, transformasi itu sendiri lah yang telah menjadi bagian dari kami. Saya berusaha mengingat hari-hari kami dulu yang minim produktivitas dijegal banyak pembenaran, mulai dari sulitnya akses menuju instrumen, skill teknis musikal yang sangat terbatas (hanya Aszi yang bisa main gitar, dan itupun parah pula), DJ kami, Kiki, yang tak pernah fokus, juga komitmen masing-masing yang setengah niat sampai ribuan alasan subjektif tak penting lainnya seperti ancaman-ancaman DO dan hari-hari patah hati ditinggal pacar. Hari-hari yang sangat konyol ketika diingat, saat kami pertama kali manggung dengan modal minus-one cap Casio, mencuri-curi shift di IDJS tempat Kiki mengajar, minder bermain di era Hullabaloo sepanggung dengan band-band grindcore dan death metal, ditipu teman sendiri, dirampok preman di Pulo Gadung sejam sebelum take-vokal pertama kali masuk studio, dan bertengkar dengan panitia acara yang menolak membayar penuh karena menurut mereka kami hanyalah band karaoke-an. Hari-hari kami berbagi mic dari mulai bazaar SMA hingga gigs hardcore, dari acara semodel Cerdas Cermat sampai acara ulang tahun serikat pekerja di depan para buruh yang kebingungan karena tak pernah mendengar dan tahu apa itu musik hiphop. Termasuk pula di dalamnya, hari-hari ketika Kiki mulai pindah ke Jakarta untuk mulai menjalani karir sebagai peramu remix dangdut, Lephe yang mulai kehilangan passion, membuat saya dan Aszi tiba-tiba terdampar di petualangan aktivisme dengan atau tanpa alasan yang jelas. Membuat kami melewati hari-hari ajaib lainnya yang sama sekali tak pernah kami bayangkan saat pertama kali briefing di halaman depan rumah Lephe untuk mendiskusikan "Apa nih nama grup kita?". Transformasi ini saya akui adalah sesuatu yang membuat kami 'hidup' di hari-hari itu. Proses dari membuat sebuah 'grup rap' keren-kerenan sok keren menuju ke sebuah usaha mempertanyakan dan mencari alternatif lain dari sistem hari ini, tentu saja sesuatu yang 'bumi-langit'. Homicide dan kehidupan personal kami menjadi kasus ayam-telor yang sulit dipastikan mana yang mendahului yang mana dalam logika sebab-akibat. Semuanya berjalan seiring. Dari situ kami tak hanya mengenal dan dikenalkan pada banyak kawan yang menakjubkan di scene Bandung di era 90-an yang melting pot, tapi juga menghubungkan kami dengan banyak kawan, jaringan dan komunitas aktivisme di banyak lini. Tak hanya menghubungkan kami dengan kawan-kawan seperti Puppen dan Balcony yang menawarkan mic pada rekaman dan panggung mereka namun juga menyatukan kami dengan kawan-kawan di era Jafnus dimana kami berbagi wacana tentang mempetakan kemandirian politik, ekonomi dan budaya dalam kehidupan kami. Tak hanya mengasah intuisi pada kecintaan kami atas rima dan jeep beats namun juga menambahkan nyali dan melatih adrenalin saat bergabung dengan ribuan lainnya berhadapan dengan tentara-tentara Suharto. Tak hanya mengenalkan kami pada kawan-kawan yang kami berhutang nyawa di era Harder berlogo kartun butut namun juga menghubungkan kami pada orang-orang yang mengenalkan keterasingan yang dialami kawan-kawan buruh ke depan mata kami, yang selama ini hanya kami baca di buku-buku dan berita. Tak hanya membuat kami menekuni buku manual software dan hardware perangkai kebisingan namun pula bergelut dengan buku-buku dan diktat pengorganisiran komunitas. Tak hanya membuat kami beradu bacot dengan para Marxis-Leninis dan otoritarian "kiri" yang minta ampun ortodoks-nya tapi juga membuat kami terpaksa berhadapan dengan parang dan balok para fasis "kanan" yang punya hobby melarang, main sweeping dan main gasak. Tapi saya tak akan menyanggah dari mana semua ini berasal. Karena kosakata itu tak pernah lenyap dari ingatan; flow Rakim, mad-face invasion Onyx, stab Jam Master Jay, ancaman hiphop pasca Efil4Zaggin, kebisingan Bomb Squad PE, beat DJ Muggs, narsis-nya KRS One, groove Primo dan kompleksitas illmatic. Itu semua yang pernah mengumpulkan kami dan memang tak pernah pergi jauh-jauh. Hingga akhirnya sampai pada hari saya menulis pengantar ini, menyisakan satu mikrofon bagi saya untuk disiasati setengah mampus supaya bisa tetap digenggam, saya aktifkan kembali meski dengan nafas yang memendek akibat usia dan nikotin, juga di antara waktu yang kusut bersaing dengan aktivitas mencari nasi dan mengasuh anak. Saya lakukan kembali, tak lebih untuk mencari harapan yang sama: mengharap hari-hari tak terduga lainnya yang tidak sepasti janji asuransi dan keabsolutan liang kubur. Living the rest of our time like yesterday: to the fullest. Kumpulan lagu dalam rekaman ini bukan album dalam artian sebenarnya. Berawal dari usaha restrospektif mendokumentasikan apa yang hampir tidak kami miliki selama 10 tahun lebih yang miskin produktivitas tadi. Awalnya berjumlah lebih dari segini, namun setelah dipilah, ternyata hanya segini ini yang layak didokumentasikan. Hanya single-single lepas yang dibuat 5 tahun ke belakang, sebagian dahulu sempat akan dibuat e.p namun berakhir menjadi split dengan Balcony, kemudian e.p lainnya yang urung dirilis dan sisanya hanya track-track lama yang tercerai-berai, yang belum sempat direalisasikan bersama Lephe dan Aszi, dan saya merasa berhutang pada mereka untuk menuntaskannya. Alasan tentu saja akan selalu banyak untuk dibuat-buat. Mulai dari materi yang terlalu buruk, tidak representatif dari segi sound meski jungkir balik direkayasa, hingga banyaknya data-data mentahan yang hilang atau rusak. Maklum 7-8 tahun yang lalu komputer dan filing digital belum se-populer sekarang dan semua data selama ini kami simpan secara analog di kaset-kaset type II dan di DAT-DAT yang berjamur kering setelah kena banjir di gudang kecil di garasi rumah Lephe. Begitu pula dengan lirik, beberapa dari mereka saya taruh kembali lengkap apa adanya seperti dahulu termasuk penjelasannya, namun beberapa lainnya tidak, dikarenakan satu hal dan lainnya. Ini nampaknya pula harus saya sebutkan karena merupakan elemen penting untuk memahami bentangan ke-'sompral'-an kami. Membaca kalimat-kalimat di lembaran lirik ini yang sudah barang tentu harus ditemani peringatan tentang 'waktu produksi' karena barang siapa tidak pastilah ia akan menganggapnya sebagai 'lagu baru rilis' dan pada akhirnya berpotensi mengulang masalah-masalah yang dahulu timbul gara-gara lagu-lagu ini. Hal ini harus saya tulis, mau tak mau, karena jika satu saat ada yang misinterpretasi, sudah bisa saya anggap salah mereka sendiri. Kumpulan singel lepas ini pada akhirnya, secara personal, saya fungsikan untuk menutup satu lagi babak yang sudah seharusnya diakhiri setahun yang lalu. Agar saya berkesempatan untuk memikirkan apa yang harus dilakukan dengan potongan-potongan hasrat dan memori yang mati-matian menyesuaikan diri dengan kondisi baru yang sudah jauh berbeda dari yang hulu waktu saat kami memulainya dulu. Untuk kemudian saya berharap ada tengat waktu baru bagi saya untuk memutuskan apakah harus melanjutkannya atau mengakhirinya. Sebagai ganti kalimat penutup, saya secara personal ingin berterima kasih pada mereka-mereka yang pernah menjadi bagian dari Homicide, yang pernah berbagi rima, rotasi vinyl bulukan, 808 dan sample drumloop James Brown dari Numarx butut dan Fruityloop bajakan. Mereka yang pernah berbagi ruang untuk menghidupinya hingga mereka punya arti lebih dari sekedar bentangan kalimat berpantun. Pula pada mereka yang selama ini kami berhutang nyawa, budi, bantuan, imajinasi, props dan dukungan, inspirasi dan persahabatan atau mungkin satu dua batang rokok dan ongkos bensin yang tentunya sangat tak mungkin saya sebutkan satu-persatu di ruang sempit ini. Pada semua yang sempat menjadi keluarga, saudara, sahabat, kawan bahkan musuh dan sesuatu di tengah-tengahnya. Tanpa kalian, kumpulan single seadanya ini tak mungkin pernah ada. Pula cerita hidup kami kemarin. Mad respect, much love, widespread hope, clenched fist. Desember 05 Ucok a.k.a Morgue Vanguard
Ini disalin dari dokumen pdf dari milis yahoo langsung dari Subciety Records yang merilis album mereka tahun lalu. Tracklisting nya mungkin berguna... itu urutan lagu di CD nya. ARTIST : HOMICIDE ALBUM : THA NEKROPHONE DAYZ "REMNANTS AND TRACES FROM THE YEARS WORTH LIVING" Tracklisting : 01. Post-Mortem Hiphop / [Dis]Empowerment (Intro) 02. Boombox Monger 03. Altar Ruins 04. Puritan (Godblessed Fascists) 05. Semiotika Rajatega 06. From Ashes Rise 07. The Requiem 08. Puritan (The End Time Remix) 09. From Ashes Rise (Remix) 10. Boombox Monger (Remix) 11. Barisan Nisan 12. Senjakala Berhala 13. Belati Kalam Profan 14. Rima Ababil 15. Sajak Suara 16. Nekropolis 17. Membaca Gejala Dari Jelaga 18. State of Hate (CD Bonus Track) 'The Nekrophone Dayz' is a small anthology documented almost all Homicide's sonic works they did during 11 years of existance. Contains their earlier to newest materials that formed this two EPs combo, compilation songs, unreleased remixes plus one demo cut, including the remastered version of their alredy-classic “Semiotika Rajatega” and “Boombox Monger”. Straight-up 18 cuts on one solid CD. Homicide is not only pioneering the real hiphop sounds in Bandung Indonesia, they're also marked as one of the most significant groups Bandung ever produced. They combined street battle verses with political consciousness and punk rock ethics, backed with musics that deep rooted in the tradition of New York's jeep beats and avantguard's fearless noises. With influences ranging from Rakim to Marvin Gaye, Public Enemy to This Heat to The Last Poet to Crass and Neurosis, they're also known for their dedication in local activism and democratic grass root movement, no wonder if they're thightly connected to the local punk/HC scene and local resistance network as well. They didnt only save Indonesian hiphop scene from the bling-bling storm but also calling out an insurection during Suharto's regime. Being hated by zealouts from a number of organized religions they lived their words to the fullest. The label anarcho-hiphop is not enough to describe their words, sounds and passion throughout eleven years of grabbing the mics. This CD is the chance for anyone who never heard the rawest and heaviest jeep beats and fiercest rhymes ever made in Indonesia. |